CERPEN
SENANG BISA BERKENALAN DENGAN
KEMALIQ LINGSAR
Kring
kring suara alarm membangunkan tidurku di pagi ini yang begitu dingin,
membuatku malas beranjak dari tempat tidur yang nyaman ini. Yah, mau gimana
lagi aku harus bergegas menjalankan aktivitasku sebagai mahasiswa. Dengan malas
aku bangkit dari tidurku lalu bergegas mengambil handuk dan mandi.
Tiba-tiba suara ibu memanggilku, “Ika cepat
turun!sarapan sudah siap!” Teriak ibu.
“iya
bu, ini sudah kok.” Teriakku dari dalam kamar, dengan tak bersemangat ku
langkahkan kaki ini untuk turun. Di ruang makan ibu sudah duduk dengan menu
makan pagi yang berjejer rapi di meja
makan, nasi goreng, telur mata sapi, roti bakar dan susu.
“ini,
nasi goreng kesukaan kamu sayang. “Ucap ibu sambil menyodorkan sepiring nasi goreng.
“iya
bu, terima kasih, ngomomg-ngomong Ayah kemana Bu? “tanyaku.
Oh,
ayahmu sudah berangkat tadi pagi. Ayah katanya ada pertemuan penting. “jawab
ibu. Dan kali ini aku harus berangkat
sendiri ke kampus dengan mengendarai motor. Setelah sarapan usai aku bergegas
keluar rumah dan berpamitan pada ibuku.
“Bu,
Ika berangkat dulu iya? Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam
hati-hati iya?” Jawab ibu, sambil mencium keningku. Aissh padahal aku sudah besar, masih saja
diperlakukan layaknya anak kecil.
“Aku
mengendarai motorku dengan dengan kecepatan yang lumayan tinggi, melewati
kompleks perumahan, udara begitu dingin menusuk tulang padahal sudah jam
setengah tujuh. Perjalanan dari rumahku menuju kampus, menurut teman-teman
kampusku yang pernah datang untuk sekedar bermain dan ingin tahu rumahku
jaraknya lumayan jauh bahkan mungkin jauh bagi mereka namun karena sudah
terbiasa menjalaninya aku pun merasa
jaraknya tidak terlalu jauh. Mungkin terasa jauh ketika ada acara yang
mengharuskan pulang tepat waktu dan hal seperti itu menurutku menjadi terasa
sedikit jauh.
Rumahku
berada didaerah Kuripan sedangkan kampus dimana aku menuntut ilmu berada di
daerah Mataram, tepatnya Jalan Majapahit,
Gomong, Mataram. Universitas Mataram, ya itulah kampus dimana aku menimba ilmu.
Kampus Gedung Putih adalah sebutan untuk kampusku ini, nama yang sering
terdengar ditelinga.
Jalan
yang akan aku tempuh dari rumah sampai
kampusku terdapat beberapa titik rawan kemacetan, aku berngkat dari rumah
sekitar 06:30. Dingin yang menemaniku dalam perjalanan menuju kampus tercinta.,
belum lagi ketika dalam perjalanan disambut dengan kemacetan orang beraktivitas
pada pagi hari. Namun itulah perjuangan untuk meraih kesuksesan.
Kita
lupakan drama perjalanan aku menuju ke kampus.
***
Sesampainya
di kampus, aku bergegas menuju ke gedung E201, disanalah aku akan menerima
ilmu.
Suasana
kelas E201 sudah ramai sekali, ramai dengan hiruk pikuk teman-teman yang lagi
asik mengombrol, bercanda riang.
“Ka,
tiba-tiba suara dari belakang memanggil namaku. Dengan cepat aku membalikkan
badanku ke belakang sambil mencari tahu dari mana arah datang suara tadi.
“Ika,
sini!. Mengangkat tangan sambil menertawakanku yang kebigungan mencari suara
yang memanggil namaku.
Aku
pun bergegas mendekati mereka. “duduk sini, kata Nuris yang masih
terbahak-bahak melihat mukaku yang kebigungan.
Belum
beberapa menit aku duduk, tiba-tiba dosen datang dengan mengucapkan salam,
“Asslammualakum adik-adik. Entah darimana kelas yang tadi rebut tiba-tiba
terdiam tanpa satupun yang berani berbicara. Suasana yang tadi ramai tiba-tiba
sepi.
“Waailaikumsalam
warahmatullah hibarakatuh, ucap semua mahasiswa yang ada dikelas E201 dengan
serentak.
Baikalah
disini bapak akan menjelaskan sedikit saja tentang observasi yang akan
adik-adik lakukan untuk memenuhi tugas UAS. Yang pertama adik-adik harus
membagi kelompok maximal 6 orang. Kedua tentukan materi yang akan adik-adik
observasi. Setelah semua data terkumpul bapak akan bagikan jadwal persentasi
untuk masing-masing kelompok.
Ketika
dosen menjelaskan tidak ada satupun mahasiswa yang berani berbicara, mereka
sibuk memperhatikan dosen yang sedang menerangkan dan mencatat hal-hal yang
penting saja.
“Ada
pertanyaan?, ujar dosen. “serentak mahasiswa yang dikelas menjawab” tidak ada
pak!”. “Baiklah jika tidak ada bapak akhiri. Terima kasih atas perhatiannya
assallammualaikum. “Waalaikumsalah warahmatullah hiwabarakatuh. Terima kasih
banyak pak, ucap aku sambil menyalami.
setelah dosen keluar ruangan, kelas kembali ribut
dan suara suara tidak bisa dikendalikan. Aku dan hanya diam sambil menutup
telingaku. Tiba-tiba terdengar suara yang keras dari belakang pintu. “ Bisa
dikecilkan volume suaranya, bapak sedang mengajar. “Ujar dosen kelas sebelah.
“Baik pak, sahut ketua tingkat.
“Ayok
dah cepatan bagi kelompoknya, salah satu teman nyeletuk dibelakang. Okey nanti
saya share lewat WG anggota kelompok beserta materi yang kalian akan observasi,
“tegas ketua tingkat. Kami pun beranjak keluar ruangan. Tiba-tiba dari belakang
ada yang menepuk pundakku, “Ka ke kantin yuk. “aku pulang duluan dah beb. “Okey
gua duluan”. “Aku hanya menjawab dengan seyum”.
Aku
pun memutuskan untuk pulang ke rumah nenek karena jarak kampus dengan rumah
nenek sangat dekat.
Sesampainya
disana aku salaman sama nenek, ayok makan dulu “kata nenenk. Nanti saja nek ika
sudah kenyang, “ucapku.” Iya sudah nanti kalau ika lapar ambil sendiri iya”,
“iya nek”. Akupun berjalan kekamar mandi untuk solah zuhur. Selesai solat aku
langsung menjatukan badanku ke temapat tidur sambil memainkan handpone, baru
beberapa menit tidak membuka handpone notif telpon terdengar. Dan Alhamdulillah
aku sudah punya kelompok. Dan rencana besok pagi kami akan pergi observasi.
Singkat
cerita, minggu pagi aku dan teman-teman kelompokku pergi observasi ke Pura
Lingsar. Pertama kali aku menginjakkan kaki ketempat yang sangat bersejarah.
Bukan hanya memiliki cerita sejarah, tetapi keindahan alam yang masih sangat
asri dapat kita jumpai di tempat ini.
“Disana
kami disambut oleh pemandu Pura Lingsar, sambil berjalan melihat sekeliling
pura tersebut. Ada satu yang membuat saya penasaran, yaitu tentang kemaliq.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau. “ Pak apa sih
kemaliq itu?”. Bapak itu menjelaskan “Kemaliq Lingsar adalah tempat yang di
keramatkan oleh suku Sasak, karena terdapat sebuah mata air yang diyakini
sebagai tempat sebuah moksa atau seorang penyiar agama wetu telu yang bernama
Raden Mas Sumilir dari kerajaan Medayin. Masyarakat Sasak menyebut mata air ini
dengan nama Kemaliq yang berasal dari kata Maliq yang memiliki arti keramat
atau suci.” Banyak banget yang beliau ceritakan tentang sejarah tempat ini. Dan
tim kami hanya terdiam melihat masyarakat yang gotong royong yang menjaga
tempat ini. Tempatnya ini benar-benar bersih dan asri banget.
Dengan
memperkenalkan budaya kita ke orang lain, maka semakin banyak orang yang
mengetahui mengenai budaya daerah sendiri maupun budaya daerah lain. Semakin
banyak pengetahuan budaya yang dimiliki, maka semakin besar rasa kita untuk
saling menghormati kebudayaan orang lain. Oleh karena itu kita sebagai generasi
penerus bangsa harus ikut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan budaya
suku Sasak.
Sekian
cerpen dari saya kurang dan lebihnya saya mohon maaf.
Penulis:
Baiq Aulia Sustika
Mantap, Kembangkan!ππ»
ReplyDeletemantaaab ka
ReplyDeleteKereenn..
ReplyDeleteMenarik god job π
ReplyDeleteMakasih
DeleteDengan Membaca Cerpen ini saya menjadi lebih tau tentang sejarah lombok terutama di Lingsar,Tetap Semangat Berkarya Untuk Baiq Aulia sustika Dan Tetap Fokus Pada Penulisannya πππ
ReplyDeleteTerimakasih banyak π
DeleteKeren!
ReplyDeleteMantap
ReplyDeleteTerimakasih informasinya kakaaaaaaa
ReplyDeleteOkey
DeleteCeritanya bagusπ
ReplyDeleteMantaapππ
ReplyDeleteCerita yg sangat menarik, ditunggu karya-karya selanjutnya yaaa
ReplyDelete